Pages

Subscribe:
Change Background of This Blog!


Social Icons

Selasa, 15 Mei 2012

Ketoprak Budaya Jawa Yang Terlupakan

Ketoprak adalah salah satu budaya jawa yang kini sudah mulai terlupakan, ketoprak sempat menjadi primadona panggung hiburan di Indonesia pada era 90-an, mungkin karena pada waktu itu belum ada hiburan lain sehingga popularitasnya dapat menyedot perhatian khalayak umum.Dulu waktu aku kecil dikampung sering ada pergelaran Ketoprak biasanya dalam acara sunatan atau mantenan, seiring dengan berkembangya  zaman terutama di bidang teknologi  kini kethoprak mulai terlupakan, tak dipungkiri anak-anak zaman sekarang lebih suka nonton konser band atau konser dangdut daripada nguri-uri budaya sendiri.

Untungnya Pemkab Grobogan masih memperhatikan nasib budaya yang satu ini, kemarin tanggal 21 April bertepatan dengan peringatan hari Kartini di depan Pendopo Kabupaten Grobogan di gelar pergelaran Ketoprak, pergelaran itu sendiri mempunyai makna ganda selain untuk nguri-uri kebudayaan Jawa yang sudah terlupakan juga untuk memeringati Hari Kartini. Terlihat sekali kalau ketoprak sudah tidak diminati lagi di kalangan masyarakat dibuktikan dengan sedikitnya penonton Kethoprak pada malam itu,Itupun kebanyakan yang nonton kaula tua.

Ketoprak yang saya tonton malam itu di sajikan oleh Sanggar Ketoprak  Purwo Budoyo dari PSPN Kabupaten Grobogan dengan membawakan cerita kehidupan kerajaan Mataram.

Yang saya suka dari pergelaran ketoprak yaitu ketika terjadi peperangan antar prajurit kerajaan, setiap pergelaran ketoprak pasti menampilkan segmen peperangan, perang prajurit yang ditunjukan oleh pemeran terlihat nyata dan diselingi dengan tingkah laku pemeran yang kocak. Misalnya ketika salto kedepan dan kebelakang  para pemeran melakukanya dengan nyata.

Semoga Budaya Ketoprak yang kini sudah mulai terlupakan tidak punah tergerus oleh arus Globalisasi. Dan jangan sampai Budaya Jawa yang satu ini di klaim sebagai budaya lokal oleh negara lain.

Malaysia Mengklaim Bunga Raflesia Arnoldi?

BENGKULU, KOMPAS.com - Klaim Malaysia terhadap bunga Raflesia arnoldi membangkitkan semangat Kelompok Peduli Puspa Langka Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang untuk melestarikan habitat flora langka itu.

“Terus terang kami sakit hati mengetahui dari media bahwa Malaysia juga mengklaim bunga Raflesia,” kata Ketua Kelompok Peduli Puspa Langka Holidin, Minggu (25/10).
Padahal, semangat masyarakat sudah berkurang untuk menjaga setiap bunga yang mekar di kawasan Hutan Lindung dan Cagar Alam Taba Penanjung.

Dengan adanya klaim tersebut, anggota kelompok kembali bersemangat membersihkan kawasan dua bunga Raflesia yang mekar di perbatasan Kota Bengkulu-Kepahiang sejak dua hari terakhir.
“Ada dua yang mekar, posisinya 200 meter dari jalan raya. Sebenarnya kami tidak semangat membuka jalan karena medannya curam, tetapi mengingat klaim Malaysia atas Raflesia, semangat anggota kelompok jadi tinggi,” katanya.

Holidin mengatakan satu bunga sedang mekar sempurna dan diperkirakan masih mekar hingga empat hari ke depan.

Bunga yang mekar tersebut berada di kemiringan 65 derajat dengan diameter 80 cm, dan dapat dinikmati pengunjung hingga 12 hari ke depan sebelum membusuk.

Satu bunga lainnya masih mulai membuka kuncup dan diperkirakan mekar sempurna enam hari lagi. Selain dua bunga tersebut, kelompok ini juga menemukan dua calon bunga sebesar bola kaki, dan lima yang sebesar bola kasti.

Diperkirakan hingga satu bulan ke depan calon bunga itu akan berbunga secara bergantian. “Jadi, pengunjung punya banyak kesempatan untuk melihat bunga ini di habitatnya langsung,” katanya.
Selain tujuh calon bunga tersebut, Holidin yang saat ini sedang membersihkan lokasi bunga dan merintis jalan setapak bagi pengunjung mengatakan enam inang bunga Raflesia juga menunjukkan tanda-tanda calon bunga yang biasa disebut tombol.

Jumlah tombol, belum bisa dipastikan karena pihaknya belum menghitung. “Kelihatannya banyak calon bunga yang akan muncul karena ada enam inang yang kami temukan dengan banyak tombol, atau benjolan calon bunga,” katanya.

Holidin dan timnya telah membuat tanda bagi pengunjung dengan memasang papan di pinggir jalan raya, dan kelompok tersebut juga telah membuka jalan setapak untuk pengunjung yang berniat menikmati flora langka itu.

Pohon Cengkeh Tertua di Dunia Kondisinya Merana

TERNATE, KOMPAS.com - Kondisi tanaman cengkih afo di Ternate, Maluku Utara, yang merupakan tanaman cengkih tertua di dunia, kini semakin memprihatinkan karena kurangnya perhatian dari instansi terkait atas keberadaan tanaman tersebut.
“Saya heran, cengkih afo ini dibiarkan tidak terurus, padahal ini memiliki nilai sejarah karena merupakan cengkih tertua di dunia,” kata seorang pemerhati peninggalan sejarah di Ternate, Didin Saleh, Jumat (4/12).

Cengkih yang terletak di Kelurahan Tongole, Kecamatan Ternate Tengah atau sekitar 6 Km dari pusat kota Ternate itu, pada batangnya terlihat ada bekas tebasan parang dari oknum tidak bertanggung jawab.
Cengkeh Afo adalah pohon cengkeh tertua di dunia yang terdapat di kota Ternate. Menurut cerita, pohon cengkeh ini sudah roboh beberapa bulan yang lalu.

Pohon cengkeh ini berumur 416 tahun, Tinggi 36,60 m, Garis Tengah 198 m dan Lingkaran 4,26 m. Cengkeh Afo ini mampu menghasilkan sekitar 400 kg Cengkeh tiap tahunnya.
Menurut Didin yang juga seorang sarjana pertanian itu, tebasan pada batang pohon cengkih yang tingginya 36,6 meter tersebut diduga sengaja dilakukan oleh oknum tertentu untuk mengambil bagian batang pohon demi kepentingan bisnis.

Sesuai informasi yang ada, kulit dan bagian batang pohon yang ditebas dari pohon cengkih afo tersebut dijual kepada oknum peniliti dari negara untuk kembangkan menjadi bahan kultur jaringan.
“Kalau Pemkot Ternate dan pihak terkait lainnya tidak segera melakukan langkah-langkah untuk mengamankan keberadaan cengkih afo tersebut, saya khawatir dalam waktu tidak lama cengkih itu akan mati,” katanya.

Jalan setapak dari jalan raya ke lokasi cengkih yang berusia sekitar 416 tahun itu, juga mulai rusak dan tidak ada tanda-tanda dari pemda setempat untuk memperbaikinya.
Pihak Pemkot Ternate belum dapat dikonfirmasi terkait kondisi cengkih afo tersebut, namun sebelumnya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate, Arifin Umasangaji mengatakan, cengkih afo itu telah menjadi salah satu cagar budaya dan objek wisata di Ternate.
Oleh karena itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate telah membangun berbagai fasilitas di sekitar lokasi cengkih afo, seperti membangun jalan setapak sepanjang 2,5 Km untuk memudahkan pengunjung mencapai pohon itu.

Pelajar SMA Temukan Pembangkit Listrik dari Air Hujan

Metrotvnews.com, Depok: Dua pelajar sekolah menengah atas (SMA) swasta di Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, menemukan alat pembangkit listrik dengan memanfaatkan tenaga air hujan. Penemuan tersebut pun mampu meraih peringkat dua dalam Olimpiade Penelitian Siswa tingkat nasional.

Kedua pelajar SMA itu adalah Cliff Alexander Godlief Muskita dan Luthfi Adhyaksadiputra. Mereka merupakan siswa SMA Cakrabuana, Depok.

Cliff dan Luthfi membuat alat pembangkit listrik dengan membuat satu per satu komponen berbentuk kumparan, hingga menghasilkan benda berbentuk pegas. Ketika komponen itu ditekan, maka akan timbul aliran listrik melalui kabel-kabel penghubung.

Mereka berdua mengaku, alat tersebut ditemukan karena terinspirasi dari tingginya curah hujan yang terjadi di tanah air belakangan ini. Mereka kemudianberpikir untuk memanfaatkan tingginya curah hujan itu, menjadi sesuatu yang berguna.

Konsep alat yang mereka ciptakan, di dasari atas teori Faraday. Di mana, kinetik sebuah benda bisa menghasilkan medan listrik. Dengan konsep itu pula, keduanya berhasil menyabet juara dua dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OSPI) tingkat nasional yang diadakan beberapa waktu lalu di Jakarta.

Meski aliran listrik yang dihasilkan terbilang kecil, konsep tersebut berpotensi untuk dikembangkan menjadi alat pembangkit listrik yang bermanfaat.(****)

Siswa SMA di Banten Temukan Plastik Anti-Rayap

Bangga membaca berita ini. Ternyata siswa-siswa Indonesia, yang notabene ada di kota kecil pun bisa membuat prestasi dan diberitakan. Beritanya bermanfaat pula, bisa memotivasi pelajar lain untuk melakukan penelitian dan akhirnya menemukan penemuan-penemuan baru.
Siswa SMA di Banten Temukan Kertas Anti Rayap, itu dia judulnya, bahan bakunya dari jerami. Dalam ujicoba rayap mati.
Besarnya jumlah kertas yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia, memacu industri kertas untuk meningkatkan produksinya. Hal ini mengakibatkan timbulnya masalah berupa penebangan pohon untuk pembuatan kertas.

Winna Eka Oktavia, Efa Fazriyah Haryono dan Marwah Zairah, siswa SMA Malinping, Banten menemukan alternatif lain, yaitu dengan memanfaatkan limbah jerami padi untuk bahan kertas.

Menurut mereka, jerami dipilih karena mengandung kandungan selulosa yang cukup besar, yaitu sekitar 39% sehingga dapat dimanfaatkan untuk memproduksi enzim selulosa. "Jerami padi memiliki kandungan serat yang cukup untuk dijadikan sebagai bahan kertas," kata Winna Eka Oktavia.

Menurut data BPS tahun 2006, Jerami padi merupakan limbah pertanian terbesar di Indonesia. Dengan luas sawah di Indonesia adalah 11,9 juta hektar, produksi per hektar sawah bisa mencapai 12-15 ton bahan kering setiap kali panen, tergantung lokasi dan varietas tanaman.

Sejauh ini, pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak baru mencapai 31-39%, sedangkan yang dibakar atau dimanfaatkan sebagai pupuk 36-62%, dan sekitar 7-16% digunakan untuk keperluan industri. "Jerami juga mengandung lignin, selulosa,dan hemiselulosa," kata Winna.

Winna menjelaskan, proses pembuatan kertas anti rayap ini terdiri dari dua tahapan. Pertama membuat bubur (pulp) kertas dari jerami. Proses diawali dengan memotong dan merebus jerami dengan larutan NaoH, kemudian digiling dan disaring hingga menjadi pulp basah.

"Setelah pulp dicetak, ia dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam dalam suhu 100 derajat celcius," kata Winna.

Selanjutnya, di tahapan kedua, Pulp yang sudah dicetak ditetesi ekstrak daun sirsak. "Proses ekstrak daun sirsak menggunakan cairan pelarut methanol. Daun sirsak mengandung senyawa acetoginin yang dalam konsentrasi tinggi berguna anti feedent yang membuat serangga tidak bergairah dan pada konsentrasi rendah, dapat menjadi racun perut untuk serangga," ucap Winna. 

Kertas hasil karya ini telah diuji dengan memasukkan cetakan kertas ke dalam sebuah wadah yang penuh dengan rayap. "Dalam 10 hari, 55 ekor rayap yang kami taruh di sana, mati," kata Winna.

Winna mengklaim bahwa penemuan ini dapat menjadi alternatif untuk pembuatan kertas yang biasanya menggunakan bahan dasar kayu pepohonan yang akibatnya menyebabkan penggundulan hutan. "Kertas ini juga dapat melindungi dokumen penting dari serangan rayap," kata Winna yang menceritakan bagaimana ijazah orang tua rekannya habis disantap rayap.

Winna menceritakan, dalam menemukan karya ini, mereka banyak belajar dari beberapa sumber di Internet. Dari sana mereka mengetahui bahwa ada insektisida alami seperti daun sirsak, daun asam Jawa.

Jerih payah mereka menuai hasil dengan menjadi salah satu kategori pemenang lomba karya ilmiah remaja bidang LIPI 2011. Selama penelitian mereka mengaku bolak-balik dari Lebak Banten ke Cibinong untuk menguji karya mereka di Laboratorium Cibinong.